Metro, (potretmetro.com) — Dewan Kesenian Metro (DKM) melalui Komite Sastra menggelar kegiatan Workshop Menulis Cerpen yang diikuti oleh 50 pelajar tingkat SMA se-Kota Metro. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 11 Oktober 2025, di Gedung Nuwo Budayo Metro dan menjadi bagian dari program pembinaan sastra yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan literasi dan kreativitas pelajar di bidang penulisan fiksi.
Workshop ini dibuka langsung oleh Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Metro, Amin Budi Utomo. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata dukungan DKM terhadap dunia literasi di kalangan pelajar.
“Workshop ini kami gagas sebagai upaya menciptakan ruang pembinaan yang berkelanjutan bagi pelajar. Harapannya, akan lahir cerpenis-cerpenis muda yang mampu bersaing, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga nasional,” ujar Amin Budi Utomo.
Kegiatan berlangsung dalam dua sesi utama. Pada sesi pertama, pelajar mendapatkan pembekalan dasar mengenai penulisan cerpen dari Fatrohul Mubarok, S.S., seorang sastrawan yang telah banyak menghasilkan karya di media sastra nasional. Dalam paparannya, Fatrohul mengajak peserta untuk mengenali elemen-elemen dasar dalam cerpen, seperti unsur intrinsik dan ekstrinsik, serta pentingnya kesesuaian antara tema dan struktur kalimat.
“Menulis cerpen bukan hanya menuangkan ide, tapi bagaimana merangkainya dengan struktur naratif yang kuat. Pemahaman terhadap konflik, karakter, dan setting adalah hal-hal yang perlu dikuasai sejak awal,” jelas Fatrohul dalam materinya.
Sesi kedua dilanjutkan dengan pemaparan dari Solihin Utjok, penulis dan praktisi sastra, yang membahas lebih mendalam mengenai standar dramatik dalam cerpen. Ia menguraikan struktur dramatik mulai dari eksposisi, insiden pemicu, rising action, klimaks, falling action, hingga resolusi.
Solihin menekankan pentingnya memperkuat elemen konflik dalam sebuah cerita sebagai penggerak utama alur.
“Konflik adalah jantung dari cerpen. Tanpa konflik yang kuat dan relevan, cerita tidak akan memiliki daya dorong emosional. Penulis harus mampu merancang konflik yang masuk akal, hidup, dan menyatu dengan karakter serta tema cerita,” ujarnya.
Kegiatan ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk dari Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia. Perwakilan MGMP, Ibu Dewi, menyampaikan terima kasih kepada Dewan Kesenian Metro atas inisiatif dan dukungannya terhadap pengembangan keterampilan menulis bagi pelajar.
“Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat bagi kami di lingkungan sekolah. Siswa mendapatkan pengalaman langsung dari para praktisi, yang tentu akan berdampak pada peningkatan minat dan kualitas literasi mereka,” kata Ibu Dewi.
Dewan Kesenian Metro menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program jangka panjang yang akan terus dikembangkan. Tidak hanya pada aspek penulisan cerpen, namun juga dalam bentuk pembinaan lainnya di bidang sastra, teater, dan seni rupa.
“Kami ingin menjadi mitra aktif sekolah dan komunitas dalam mencetak generasi muda yang bukan hanya kreatif, tapi juga memiliki kecakapan literasi yang kuat,” pungkas Amin Budi Utomo.
Sebagai lembaga yang memiliki mandat untuk mendorong pertumbuhan seni dan budaya, Dewan Kesenian Metro terus memperkuat peranannya melalui kegiatan-kegiatan edukatif dan produktif. Workshop menulis cerpen ini menjadi salah satu contoh konkret dari komitmen tersebut.
Dengan antusiasme tinggi dari para peserta dan dukungan dari para guru, kegiatan ini menunjukkan bahwa pelajar Kota Metro memiliki potensi besar untuk berkembang di dunia literasi sastra. DKM berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda tahunan semata, tetapi menjadi bagian dari sistem pembinaan yang terus berjalan dan berdampak luas. (red)