Bandar Lampung — Lebih dari 60 perwakilan Dewan Kesenian kabupaten/kota se-Provinsi Lampung berkumpul dalam Temu Wacana Dewan Kesenian 2025, yang digelar di Hotel Hexton, Bandar Lampung, Kamis (31/7). Forum ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antarlembaga kesenian dan merumuskan arah kebijakan budaya daerah yang lebih adaptif di tengah tekanan globalisasi dan digitalisasi.
Mengusung tema “Sinergitas dan Penguatan Ekosistem Seni Budaya melalui Dewan Kesenian dalam Merespon Tantangan Global”, kegiatan ini diinisiasi oleh Dewan Kesenian Lampung (DKL) sebagai bagian dari upaya kolektif memperkuat posisi strategis seni budaya di ranah pembangunan daerah dan nasional.
Dewan Kesenian Metro mengutus M. Khaidir C. P. sebagai delegasi dalam forum ini. Ia bergabung bersama tokoh-tokoh budaya dan seniman dari berbagai wilayah, termasuk dari daerah yang belum memiliki struktur formal Dewan Kesenian seperti Tanggamus, Pringsewu, dan Pesawaran—mereka tetap hadir melalui perwakilan komunitas seni lokal. Hal ini mencerminkan semangat inklusif dan kolaboratif dalam membangun ekosistem budaya yang menyeluruh.
Sejumlah narasumber penting turut hadir untuk memperkaya diskusi:
-
Restu Gunawan (Dirjen Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, Kemendikbud), membahas peluang sinergi antara Dewan Kesenian dan pemerintah dalam merawat identitas budaya daerah.
-
Iwan Nurdaya Djafar (Sekretaris Akademi Lampung), menyoroti tantangan pelestarian seni tradisi di era digital.
-
Irawan Karseno (Koalisi Seni), menekankan pentingnya advokasi anggaran dan kebijakan budaya yang berkeadilan.
-
Perwakilan Komisi V DPRD Provinsi Lampung, membahas dukungan legislatif terhadap pengarusutamaan kebudayaan dalam pembangunan daerah.
Temu Wacana ini ditutup dengan penyusunan Maklumat Bersama, yang memuat rumusan strategi dan agenda kolaboratif ke depan untuk memperkuat keberadaan serta peran Dewan Kesenian di seluruh Lampung.
Ketua Dewan Kesenian Lampung, Prof. Dr. Satria Bangsawan, SE., M.Si., menegaskan pentingnya membangun jejaring lintas daerah dalam menghadapi dinamika zaman.
“Seni dan budaya tidak bisa jalan sendiri. Kolaborasi adalah kunci. Lewat Temu Wacana ini, kita ingin menyatukan arah dan mempertegas peran strategis Dewan Kesenian sebagai pilar pembangunan kebudayaan yang berkelanjutan.”
Temu Wacana 2025 diharapkan menjadi titik tolak baru bagi Dewan Kesenian se-Lampung untuk bergerak lebih solid, responsif, dan progresif dalam mengawal kemajuan seni budaya di tengah tantangan zaman.