Metro, (potretmetro.com) — Dewan Kesenian Metro menghadiri kegiatan Ngaji Bahasa: Membaca Nusantara #3 yang diselenggarakan oleh Komunitas Ruang Pojok bekerja sama dengan Lampung Literature. Kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus diskusi buku puisi Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat, yang digelar pada Sabtu malam, 24 Januari 2026.

Acara berlangsung mulai pukul 19.30 WIB hingga selesai, bertempat di Sekretariat Komunitas Ruang Pojok, Jalan Penyu RT 020 RW 008, Kelurahan Yosodadi, Kecamatan Metro Timur, Kota Metro, Provinsi Lampung. Kegiatan ini dihadiri oleh pegiat sastra, komunitas literasi, serta perwakilan Dewan Kesenian Metro sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan ekosistem seni dan literasi di Kota Metro.

Dalam kegiatan tersebut, Ari Pahala Hutabarat hadir langsung sebagai penulis untuk berbagi gagasan sekaligus mengulas proses kreatif di balik penulisan buku puisinya. Diskusi dipandu oleh Solihin Utjok dengan format dialog santai yang membuka ruang percakapan cair dan partisipatif antara penulis dan peserta.

Dalam pemaparannya, Ari mengungkapkan gagasan utama yang melandasi buku Nusantara, Amnesia. Ia menilai bahwa masyarakat Indonesia saat ini tengah mengalami apa yang ia sebut sebagai “amnesia kolektif”, yakni kecenderungan melupakan akar dan ingatan kebudayaan Nusantara.

“Kita—masyarakat Indonesia—sedang mengalami amnesia secara kolektif. Kita tengah melupakan ‘ibu’ kita—Nusantara,” ungkap Ari di hadapan peserta diskusi.

Ia menjelaskan bahwa puisi-puisi dalam buku tersebut merupakan hasil pembacaan subjektifnya atas berbagai data dan peristiwa sejarah Nusantara dari masa ke masa, mulai dari periode kedatangan penjajah hingga kondisi sosial-politik kontemporer. Kegelisahan tersebut, menurut Ari, salah satunya dipicu oleh narasi resmi negara yang kembali menggaungkan kejayaan jalur rempah sebagai simbol kejayaan peradaban Nusantara.

“Pertanyaannya sederhana,” ujar Ari, “apakah karena kita pernah menjadi penghasil rempah terbesar di dunia, lantas itu otomatis berarti kita pernah jaya?” Ia menilai, pada titik itulah mekanisme amnesia bekerja—ketika sejarah direduksi menjadi romantisme tanpa pembacaan kritis terhadap dampak dan relasi kuasa yang menyertainya.

Diskusi berlangsung khidmat dan berkembang secara dinamis. Hal tersebut terlihat dari kehadiran empat penanggap yang menyampaikan pertanyaan dan tanggapan seputar proses kreatif penulisan, problem utama yang diangkat dalam buku, serta relevansi isu-isu sosial yang dibahas dengan kondisi masyarakat saat ini.

Pada sesi penutup, Solihin Utjok mengajak seluruh peserta untuk terus mengapresiasi karya sastra dan mendukung kegiatan literasi berbasis komunitas. Ia menyampaikan bahwa program Ngaji Bahasa: Membaca Nusantara merupakan ikhtiar Komunitas Ruang Pojok dalam menghadirkan ruang pertemuan alternatif guna mendorong pembacaan kritis terhadap sejarah, bahasa, dan ingatan kolektif Nusantara melalui karya sastra.

Melalui diskusi buku puisi ini, peserta diajak merefleksikan kembali pengalaman kebudayaan serta meninjau ulang narasi-narasi yang kerap terpinggirkan untuk dibicarakan secara terbuka dan kritis. (PAI)