Metro, (potretmetro.com) — Upaya untuk memperkuat pendidikan berbasis budaya terus dilakukan oleh Dewan Kesenian Metro (DKM). Salah satunya melalui kegiatan Workshop Pantomime yang diperuntukkan bagi para guru Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kota Metro.
Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 10 Oktober 2025, di Gedung Nuwo Budayo Metro, dan diikuti oleh 30 peserta dari berbagai sekolah dasar dan MI sederajat se-Kota Metro. Workshop mengusung tema: “Menggali Potensi, Mewujudkan Prestasi dari Bahasa Tubuh untuk Pendidikan Berbudaya.”
Workshop ini bertujuan membekali para guru dengan pengetahuan dan keterampilan dasar dalam seni pantomime, agar dapat diaplikasikan di lingkungan sekolah sebagai bagian dari pengembangan karakter, ekspresi seni, dan pembelajaran kreatif bagi siswa.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua Komite Teater DKM, Duma Harahap, yang dalam sambutannya menyampaikan bahwa seni pantomime memiliki potensi besar untuk membentuk karakter anak melalui pengolahan ekspresi, gestur tubuh, serta empati.
“Kami berharap, ilmu yang didapat hari ini tidak berhenti di sini, tapi bisa diterapkan di sekolah masing-masing. Kita ingin lahir bibit-bibit baru pecinta pantomime dari Kota Metro yang bisa tampil di berbagai ajang seni, baik lokal maupun nasional,” ujarnya.
Workshop terbagi dalam tiga sesi utama yang disusun secara sistematis dan interaktif.
🟣 Sesi pertama, dipandu oleh fasilitator Andika Septian, menghadirkan pemateri utama Abdul Hakim Duma Harahap, S.Sn, seorang praktisi teater dan mime. Dalam paparannya, Duma menjelaskan dasar-dasar pantomime, mulai dari pengolahan tubuh, gestur, hingga latihan untuk membangun kepercayaan diri.
🟣 Sesi kedua, diisi oleh Imam S Mimer, praktisi pantomime yang membahas lebih dalam tentang eksposisi, penyusunan ide cerita, makeup panggung, pola dramatik, komposisi adegan, hingga eksplorasi ruang dan tubuh.
🟣 Sesi ketiga, peserta dibagi menjadi tiga kelompok besar untuk praktik langsung membuat pertunjukan pantomime mini. Para peserta sangat antusias mengikuti sesi ini, saling berdiskusi, menyusun alur cerita, hingga mempresentasikan pertunjukan di hadapan kelompok lain.
Antusiasme peserta tergambar jelas dari semangat mereka selama mengikuti rangkaian kegiatan. Salah satunya disampaikan oleh Winda, guru dari SDN 6 Metro.
“Saya baru pertama kali belajar pantomime secara langsung seperti ini. Ternyata seru dan banyak manfaatnya untuk mengajar. Anak-anak pasti suka kalau ini diterapkan di kelas,” ungkapnya.
Menurut Winda, pembelajaran seni yang mengandalkan ekspresi tubuh sangat relevan dalam membangun karakter dan kepercayaan diri siswa, terutama di era digital yang banyak mengurangi interaksi langsung.
Dengan adanya kegiatan seperti ini, Dewan Kesenian Metro berharap seni pertunjukan—terutama pantomime—dapat lebih dekat dengan dunia pendidikan dasar. Selain sebagai media ekspresi, pantomime juga dinilai efektif dalam melatih konsentrasi, empati, kerja sama, serta kreativitas siswa.
Workshop ini juga menjadi wadah berbagi pengalaman antarguru, sekaligus memperkuat jaringan penggiat seni dan budaya di lingkungan sekolah.
Dewan Kesenian Metro berkomitmen untuk terus menyelenggarakan kegiatan serupa ke depan, baik untuk guru, siswa, maupun komunitas seni di Kota Metro, sebagai bagian dari upaya pelestarian seni budaya dan peningkatan kualitas pendidikan yang berkarakter dan berbudaya. (red)