Metro, (potretmetro.com) – Pemerintah Kota Metro kembali membuat gebrakan besar di bidang literasi dengan menyelenggarakan Festival Literasi 2025. Dalam kegiatan ini, Pemkot menghadirkan 100.000 buku yang bisa dibaca masyarakat secara gratis. Program tersebut digadang sebagai salah satu langkah strategis memperkuat budaya baca sekaligus menyiapkan masyarakat menghadapi tantangan di era digital.
Festival Literasi 2025 merupakan bagian dari visi Kota Metro sebagai Kota Cerdas berbasis Jasa dan Budaya yang Religius. Melalui ajang ini, pemerintah daerah menegaskan komitmen untuk menjadikan literasi sebagai kunci pembangunan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Wali Kota Metro, Bambang Iman Santoso, dalam sambutannya menekankan bahwa literasi tidak boleh dipahami secara sempit hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis. Menurutnya, literasi juga mencakup kecakapan memahami informasi, berpikir kritis, serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi digital.
“Kami ingin membentuk masyarakat yang tidak hanya cerdas dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga bijak dalam memanfaatkan teknologi. Kota ini tidak bisa disebut cerdas hanya karena teknologinya maju, tetapi juga karena masyarakatnya literat dan mampu berpikir kritis,” ujar Bambang, Selasa (23/9/2025).

Bambang juga menyinggung tantangan literasi di daerah. Data Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusarda) menunjukkan kunjungan perpustakaan Metro tahun 2024 mencapai 42.367 orang, naik 18 persen dibanding tahun sebelumnya. Meski begitu, Indeks Aktivitas Literasi Membaca Provinsi Lampung tahun 2023 masih berada di angka 41,7, di bawah rata-rata nasional sebesar 46,6.
“Pekerjaan rumah kita adalah pemerataan literasi, terutama di wilayah pinggiran, serta penguatan literasi digital agar masyarakat mampu menyaring informasi di era banjir data,” tambahnya.
Festival Literasi 2025 dirancang tidak hanya sebagai ajang pameran buku, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi lintas generasi. Rangkaian kegiatan melibatkan pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas literasi, hingga masyarakat umum.
Beberapa agenda yang digelar antara lain pameran buku, diskusi literasi digital, kelas menulis, serta bedah karya sastra lokal dan nasional. Kehadiran 100 ribu buku menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi kalangan pelajar dan mahasiswa.
Sejumlah peserta mengaku antusias mengikuti acara ini karena memberikan ruang untuk memperluas wawasan sekaligus menumbuhkan minat baca di tengah derasnya arus informasi digital.
Kepala Dispusarda Kota Metro, Farida, menyebut koleksi buku yang dihadirkan mencakup berbagai bidang, mulai dari ilmu pengetahuan, sejarah, teknologi, hingga sastra.

“Kami berharap masyarakat dapat memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan pengetahuan dan kreativitas. Literasi adalah kunci kemajuan. Dengan literasi yang kuat, masyarakat Metro akan lebih kritis, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan teknologi,” jelasnya.
Festival Literasi 2025 tidak hanya berfokus pada peningkatan budaya baca, tetapi juga diarahkan sebagai gerakan kolektif memperkuat identitas kota sekaligus meningkatkan daya saing masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Kota Metro menegaskan diri sebagai pionir dalam penguatan literasi di daerah. Gebrakan menghadirkan 100 ribu buku diharapkan memberi dampak nyata dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, sekaligus mendukung terwujudnya visi Metro sebagai Kota Cerdas berbasis Jasa dan Budaya yang Religius. (ADV)