Pemerintah Kota Metro terus bergerak cepat dalam menangani masalah banjir yang kerap terjadi di wilayahnya. Wali Kota Metro, Bambang Iman Santoso, memimpin rapat koordinasi daring bersama Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah RI pada Selasa (5/8/2025), membahas penanggulangan banjir serta revitalisasi Sungai Way Batanghari.
Rapat ini merupakan tindak lanjut dari surat yang dikirimkan Pemkot Metro terkait penanganan banjir di kawasan strategis tersebut. Dalam pembukaan rapat, Nurhayadi, perwakilan Kemenko Infrastruktur, menegaskan pentingnya pemetaan kondisi terkini di lapangan serta evaluasi atas langkah-langkah yang telah dilakukan.
“Kita perlu melihat seperti apa penanggulangannya ke depan, apakah sudah ada upaya mitigasi, dan apa yang diharapkan dari pertemuan hari ini,” tegas Nurhayadi.
Wali Kota Metro menyambut baik dukungan pusat dan berharap rapat ini menghasilkan solusi nyata.
“Kami mengapresiasi respon cepat dari Kemenko Infrastruktur. Harapannya, dari pembahasan ini kita bisa menemukan solusi konkret, karena banjir sudah jadi persoalan darurat,” ujar Bambang.
Masalah Hulu-Hilir dan Alih Fungsi Lahan
Dalam pemaparannya, Plt. Kepala Bappeda Kota Metro, Yerri Ehwan, menjelaskan bahwa penyebab utama banjir adalah curah hujan tinggi yang memperburuk erosi di hulu akibat alih fungsi lahan, serta pendangkalan sungai di hilir.
“Banjir terakhir terjadi Januari lalu dengan ketinggian air 30–100 cm, melanda area seluas lebih dari 3 hektare di sekitar Way Perak,” ungkap Yerri.
Sebagai langkah cepat, BBWS Mesuji-Sekampung telah melakukan normalisasi Sungai Way Perak pada Juni 2025. Pemerintah juga merencanakan pembangunan kolam detensi yang akan berfungsi ganda sebagai ruang terbuka hijau.
Hambatan Teknis dan Kebutuhan Dukungan Pusat
Kepala Dinas PUTR Kota Metro, Ardah, mengungkapkan bahwa pengerukan sungai sejauh 1,37 km telah dilakukan. Namun, proyek pembangunan kolam retensi masih terganjal masalah tata ruang dan pembebasan lahan.
“Masih ada sekitar 4,6 km dari total 5,955 km sungai yang belum dinormalisasi. Kami butuh dukungan pusat agar proses ini bisa dipercepat,” ujar Ardah.
Sementara itu, pihak BBWS Way Sekampung melaporkan bahwa pengerjaan pengerukan sepanjang 1 km telah dilakukan hingga 19 Juli 2025 menggunakan excavator amfibi. Namun, keterbatasan anggaran menghambat kelanjutan proyek.
“Kami berharap Pemkot Metro bisa membantu penanganan sampah dan pohon di bantaran tanpa proses izin yang berbelit, karena ini sudah masuk kondisi darurat,” ujar perwakilan BBWS.
Pihak BBWS juga mendorong agar revitalisasi Sungai Way Batanghari bisa masuk dalam program nasional tahun 2026, dengan dukungan langsung dari Kemenko Infrastruktur. (Red)