Metro, (potretmetro.com) — Program EPIK (Ekosistem Pusat Inklusi Keuangan Syariah) resmi diluncurkan di Pondok Pesantren Al Muhsin, Kota Metro, Provinsi Lampung. Kegiatan tersebut melibatkan Pemerintah Kota Metro, Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Lampung, serta sektor perbankan syariah sebagai bagian dari penguatan literasi dan inklusi keuangan syariah di lingkungan pesantren.

Direktur Pondok Pesantren Al Muhsin, Ahmad Nurwahid, menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak dalam peluncuran program tersebut.

“Kami ucapkan terima kasih kepada seluruh panitia, Pemerintah Kota Metro, serta semua pihak yang telah mendukung sehingga launching EPIK dapat terlaksana,” ujarnya dalam sambutan.

Ia menjelaskan, program EPIK di lingkungan pesantren merupakan hasil pembinaan bersama tim Bank Sampah Sahabat Gajah Provinsi Lampung. Dalam kegiatan tersebut, turut dipamerkan sejumlah produk hasil pengelolaan sampah, seperti kursi berbahan ecobrick dan aromaterapi dari minyak jelantah.

Menurutnya, keberhasilan itu tidak terlepas dari peran para pendidik yang membina santri dalam pengelolaan sampah dan kewirausahaan. Pihaknya menargetkan kemandirian dalam pengelolaan sampah sekaligus berkontribusi mengurangi persoalan sampah di Kota Metro.

“Kami bermimpi pondok ini bisa mengelola sampah secara mandiri dan membantu menyelesaikan persoalan sampah di Kota Metro,” katanya.

Sementara itu, Deputi Direktur PEPK dan LMS Kantor OJK Provinsi Lampung, Ety Elyati, menjelaskan bahwa peluncuran EPIK merupakan bagian dari program Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Kota Metro yang dilaksanakan melalui kolaborasi lintas pemangku kepentingan.

“Program EPIK bukan sekadar tentang menabung, tetapi membangun ekosistem keuangan syariah yang holistik di lingkungan pesantren,” ujarnya.

Menurut Ety, program tersebut mengintegrasikan nilai keislaman, literasi keuangan syariah, serta kepedulian lingkungan. Santri didorong memahami bahwa sampah memiliki nilai ekonomi dan dapat mendukung konsep ekonomi sirkular berbasis syariah.

Ia juga memaparkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 yang menunjukkan indeks literasi keuangan syariah berada pada angka 43,42 persen dan inklusi 13,41 persen. Angka tersebut dinilai masih memerlukan penguatan edukasi, terutama bagi kelompok usia 15–25 tahun.

Program bank sampah di pesantren, lanjutnya, diintegrasikan dengan produk Tabungan Simpanan Pelajar (SimPel). Melalui skema tersebut, santri yang aktif mengumpulkan sampah dapat menabung sekaligus belajar mengelola keuangan sejak dini.

Plt. Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Lampung, August Riko, yang mewakili Ketua TPAKD Provinsi Lampung, menilai pesantren memiliki potensi besar dalam pengelolaan sampah.

“Jika satu hari menghasilkan 300 hingga 500 kilogram sampah, maka dalam satu bulan bisa mencapai 9 hingga 15 ton. Kalau dikelola dengan baik tentu akan menjadi nilai ekonomi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sampah organik dapat diolah menjadi kompos atau pakan ternak, sementara sampah anorganik dapat dipilah dan dimanfaatkan sebagai modal usaha kecil bagi santri.

Sambutan Wali Kota Metro yang diwakili Asisten I Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Kusbani, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pengembangan pesantren sebagai pusat pendidikan sekaligus penggerak ekonomi.

“Kami mendukung penuh hadirnya EPIK di Kota Metro. Ini bukan hanya seremoni, tetapi harus menjadi gerakan berkelanjutan dalam membangun budaya menabung, disiplin, dan peduli lingkungan,” katanya.

Melalui peluncuran EPIK di Pondok Pesantren Al Muhsin, para pemangku kepentingan berharap lahir generasi santri yang tidak hanya unggul dalam pendidikan agama, tetapi juga memiliki kecakapan literasi keuangan syariah, kemandirian ekonomi, serta kepedulian terhadap lingkungan. Program ini diharapkan dapat menjadi model pengembangan inklusi keuangan syariah berbasis pesantren di Kota Metro dan Provinsi Lampung. (red)